Symbolic Convergence Theory
of Ernest Bormann
menemukan bahwa mendramatisasi adalah jenis
komunikasi yang signifikan yang sering memupuk kekompakan kelompok. Bormann dan
tim rekannya mengamati bahwa anggota kelompok sering mendramatisasi peristiwa
yang terjadi di luar kelompok, hal-hal yang terjadi pada pertemuan sebelumnya,
atau apa yang mungkin terjadi di antara mereka di masa depan.
DRAMATIZING
MESSAGES: CREATIVE INTERPRETATIONS OF THERE-AND-THEN
Pesan mendramatisasi adalah pesan yang mengandung
bahasa imajinatif seperti permainan kata atau permainan kata lain, makna ganda,
gaya bicara (misalnya, metafora, simile,
personifikasi), analogi, anekdot, alegori, fabel, naratif, atau ekspresi
kreatif lainnya dari ide ide. Apa pun bentuknya, pesan yang mendramatisasi menggambarkan
peristiwa-peristiwa yang terjadi di tempat lain dan / atau pada waktu lain
selain di sini-dan-sekarang.
Contoh: Sebuah kelompok pendaki diberi tantangan
untuk mencapai puncak gunung everst , kelompok tersebut mampu untuk mencapainya
puncak gunung everst tetapi kelompok tersebut harus melewati tantangan yang
menurut dia sulit untuk di taklukan.
FANTASY
CHAIN REACTIONS: UNPREDICTABLE SYMBOLIC EXPLOSIONS
Bormann mengatakan Beberapa pesan yang
mendramatisasi menyebabkan ledakan simbolis dalam bentuk reaksi berantai di
mana anggota bergabung sampai seluruh kelompok menjadi hidup. Ketika pesan
dramatisasi mendapat tanggapan dan akhirnya menambah semangat partisipan untuk
berbagi fantasi.
Contoh: Dalam sebuah kompetisi mobile legend tim A
kalah dengan lawanya, setelah selesai petandingan tim A merundingkan pertandingan
yang baru saja dilakukan. Salah satu dari tim A mengatakan bahwa tim yang
mereka lawan sangatlah kompak. Anggota lain menganggap bahwa permainan tim
mereka kuramg kompak. Hal tersebut memicu untuk pertandingan selanjutnya mereka
harus bermain dengan kompak.
FANTASY
THEMES—CONTENT, MOTIVES, CUES, TYPES
Definisi teknis Bormann tentang fantasi adalah interpretasi
bersama yang kreatif dan imajinatif dari peristiwa yang memenuhi kebutuhan
psikologis atau retoris kelompok. Karena tema fantasi mencerminkan dan
menciptakan budaya grup, semua peneliti SCT berusaha mengidentifikasi tema
fantasi atau tema yang dibagikan oleh anggota grup. Tema fantasi bertindak
sebagai sarana retoris untuk mempengaruhi orang yang ragu atau penentang.
Contoh: Seorang manager yang akan risen dari perusahaannya, memberi
nasihat kepada kariawannya agar mereka bekerja dengan baik di perusahaan
tersebut untuk memberikan efek yang baik kepada perusahaan, dia juga
membuktikan kepada kariawannya bahwa dia bisa memberikan hal positif pada
perusahaan.
4 konsep tema fantasi (makna,emosi,motif,aksi)
Contoh: seorang mahasiswa sedang menonton
pertandingan sepak bola persija di lapangan gelora bung karno ia mengguna
atribut serba oren seperti supporter persija jakrta (the jack mania) hal ini
biasa di lakukan saat dia menonton pertandingan sepak bola persija untuk
menunjukan kalo dia adalah the jack mania.
1. Makna
: menonton pertandingan sepak bola persija
2. Emosi
: antusian menonton pertandiangan sepak bola persija
3. Motif
: keinginan menon pertandingan sepak bola persija
4. Aksi
: bersorak-sorak di bangku penonton untuk menyemangatkan persija
SYMBOLIC
CONVERGENCE: GROUP CONSCIOUSNESS AND OFTEN COHESIVENESS
Bagi Bormann, konvergensi simbolis berarti cara di
mana “dua atau lebih dunia simbol pribadi condong ke arah satu sama lain,
datang lebih erat bersama-sama, atau bahkan tumpang tindih. Bormann juga menggunakan
berbagai istilah untuk menggambarkan efek kesadaran kelompok — landasan
bersama, pertemuan pikiran, saling pengertian, kelompok, realitas sosial umum,
dan persekutuan empatik.
Konvergensi simbolis biasanya menghasilkan
kekompakan kelompok yang meningkat - anggota tertarik satu sama lain dan saling
menempel melalui tebal dan tipis. Kelompok yang sedikit berfantasi jarang
sangat menarik dan kohesif. Kelompok-kelompok seperti itu cenderung membosankan
dan biasa saja. Kelompok-kelompok kohesif biasanya melakukan banyak fantasi,
tetapi tidak semua kelompok yang berfantasi banyak memberi imbalan dan kohesif.
Bormann melanjutkan dengan mengatakan bahwa tema fantasi dalam
kelompok-kelompok negatif itu penuh dengan konflik dan bahwa humor yang
diekspresikan cenderung menjadi sindiran, ejekan, atau sarkasme.
Contoh
Jurnal
Jurnal
Symbolic Convergence Theory
PENDAHULUAN
Kemunculan Symbolic
Convergence Theory (CST) atau dalam bahasa Indonesia menjadi Teori Konvergensi
Simbolik (TKS) diilhami dari riset Robert Bales mengenai komunikasi dalam
kelompok-kelompok kecil. Pada penelitian yang dilakukan tahun 1950-an tersebut,
Bales sebenarnya memfokuskan penyelidikannya pada perilaku anggota kelompok.
Namun dalam proses tersebut, Bales menemukan kenyataan lain yang menarik
minatnya. Yakni, adanya kecenderungan anggota-anggota kelompok menjadi dramatis
dan berbagi cerita, ketika kelompok mengalami ketegangan.
Pertama kali teori ini
disampaikan oleh Ernest Bormann dalam tulisannya yang bertajuk “Fantasies and
Rhethorical Vision : The Rhethorical criticism of Social Reality” yang
diterbitkan dalam Quarterly Journal of Speech 1972. Bormann juga menulis
ratusan artikel dan laporan penelitian yang menggunakan TKS sebagai landasan
teoritisnya, berikut Fantasy Theme Analysis (FTA) sebagai metodenya dengan
berfokus pada kohesivitas dan budaya kelompok, pengambilan keputusan dalam
kelompok, penyanderaan, kartun politik, hingga kampanye politik. Tulisan Borman
lainnya yang secara khusus dan lengkap berbicara tentang TKS adalah yang dimuat
dalam Journal of Communication, tahun 1985.
Ernest Bormann's
menawarkan metode yang menjanjikan untuk melihat interaksi kelompok kecil dan
kepaduan. Ketika orangorang yang tidak mengenal satu sama lain datang bersama
demi mencapai tujuan bersama, baik kelompok dalam sebuah organisasi atau siswa
mengerjakan tugas sekolah, teori konvergensi simbolik dimengerti dan secara
umum melihat sikap secara akurat tentang bagaimana kekompakan di dalam kelompok
tercapai. Teori konvergensi simbolik banyak dipuji dan dianggap agak tidak
biasa, karena memenuhi kriteria ilmiah dan humanistik standar. TKS dapat
dipercaya karena memenuhi "tujuan kembar pengetahuan ilmiah"
(Griffin, 1991, hal.34). Teori Bormann memenuhi standar ilmiah penjelasan
tentang hasil, relatif sederhana, dan kegunaan praktis.
Teori konvergensi
simbolik didasarkan pada gagasan bahwa para anggota dalam kelompok harus
bertukar fantasi dalam rangka untuk membentuk kelompok yang kohesif. Dalam
teori ini, sebuah fantasi tidak merujuk pada cerita-cerita fiktif atau
keinginan erotis. Fantasi adalah cerita atau lelucon yang mengandung atau mengungkapkan
emosi. Fantasi meliputi peristiwa dari seorang anggota kelompok di masa lalu,
atau peristiwa yang mungkin terjadi di masa depan. Fantasi tidak mencakup
komunikasi yang berfokus pada apa yang terjadi di dalam kelompok. Sebagai
contoh, Bob adalah anggota dari sebuah tim di sebuah biro iklan dan menampilkan
ide untuk kemungkinan iklan. Bob tidak mengungkapkan sebuah fantasi, karena ia
membahas pekerjaan yang sedang ditangani. Namun, jika Bob mengakui bahwa ia
pergi berbelanja setelah pulang kerja untuk membeli sepeda anaknya untuk ulang
tahunnya yang ketujuh, maka ia telah mengungkapkan fantasi.
Menurut Griffin (1991),
"konvergensi melalui simbol, individu-individu membangun rasa komunitas
atau kesadaran kelompok (hal. 34). Sebagai konvergensi simbolik ikatan kelompok
secara kohesif memiliki rasa kebersamaan yang terbentuk. Masingmasing anggota
mulai menggunakan kata-kata "kita" untuk menggantikan
"Aku," dan "kita" bukan "aku." Anggota mungkin
bahkan melekat satu sama lain, dan kadang-kadang, berlangsung sesuai kelompok.
Meskipun orang "menganggap usaha patungan" (Griffin, 1991 , 34)
melalui konvergensi simbolis, penting untuk menekankan bahwa ada batasan pada
seberapa banyak hal yang sesuai dan harus dilakukan.
KONSEP
TEORI DASAR
Bormann (1985) menyatakan bahwa
teorinya dibangun dalam kerangka paradigma naratif yang meyakini bahwa manusia
merupakan Homo Narrans. Yakni, mahluk yang saling bertukar cerita atau narasi
yang menggambarkan pengalaman dan realitas sosialnya. Vasquez (Zeep, 2003,
Venus, 2007) menjelaskan bahwa Homo Narrans berprinsip dasar bahwa manusia
merupakan yang berbagi fantasi, membentuk kesadaran kelompok dan menciptakan
realitas social. TKS menegaskan, solidaritas dan kohesifitas kelompok dapat
dicapai melalui kecakapan bersama dalam membaca dan menafsirkan tanda-tanda,
kode-kode dan teksteks budaya. Hal ini mengarahkan pada terbentuknya realitas
bersama (shared reality).
Sebagai teori
berparadigma naratif, penelitian yang menerapkan teori ini mementingkan
pengumpulan data interpretif ketimbang data kuantitatif, sebagaimana
dikembangkan dalam teori berparadigma rasional. Berhubung sifatnya yang
sedemikian, maka metode penelitian yang umumnya digunakan dalam kerangka
paradigma ini mencakup studi kasus, analisa retoris atas catatan dan dokumen
kelompok, serta analisa terhadap berbagai cerita yang berkembang di dalam dan
di antara anggota suatu kelompok (Bormann dalam Venus, 2007).
Bormann menyatakan, TKS
adalah teori umum (general theory) yang mengupas fenomena pertukaran pesan yang
memunculkan kesadaran kelompok hingga berimplikasi pada hadirnya makna, motif
dan perasaan bersama (Hirokawa dan Pole, 1986 dalam Venus, 2007). Penjelasan
Bormann tadi mungkin saja sulit dicerna, tapi maksudnya sederhana saja, yaitu
teori ini berusaha menerangkan bagaimana orang-orang secara kolektif membangun
kesadaran simbolik bersama melalui proses pertukaran pesan. Kesadaran simbolik
yang terbangun dalam proses tersebut kemudian menyediakan semacam makna, emosi
dan motif untuk bertindak bagi orang-orang atau kumpulan orangyang terlibat di
dalamnya. Sekumpulan individu ini dapat berasal dari kelompok orang yang telah
saling mengenal dan berinteraksi dalam waktu yang relative lama. Bisa juga
bersumber dari orang-orang yang tidak saling mengenal dan memiliki cara berbeda
dalam menafsirkan lambing yang digunakan, tapi mereka kemudian saling
berkomunikasi sehingga terjadi konvergensi, yang pada gilirannya menciptakan
realitas simbolik bersama. Dengan demikian, proses konvergensi dapat muncul
bukan hanya dalam kelompok kecil yang relative saling mengenal tetapi bisa juga
terjadi pada rapat akbar, atau suatu saat seseorang mendengarkan ceramah, atau
ketika kita menikmati film dan iklan politik di televise.
Dalam teori ini,
Bormann (1990) mengartikan istilah konvergensi (convergence) sebagai suatu cara
dimana dunia simbolik pribadi dari dua atau lebih individu saling bertemu,
saling mendekati satu sama lain, atau kemudian saling berhimpitan (the way in
which the private symbolic worlds of two or more people begin come together or
overlap). Sedangkan istilah simbolik itu sendiri terkait dengan kecenderungan
manusia untuk memberikan penafsiran dan menanamkan makna kepada berbagai
lambang, tanda, kejadian yang tengah dialami, atau bahkan tindakan yang
dilakukan manusia (Bormann, 1986). Dalam kaitan ini Bormann juga menyatakan
bahwa manusia adalah symbol users, dalam arti bahwa manusia menggunakan symbol
dalam komunikasi secara umum maupun dalam storytelling.
Bormann menyebut metode
untuk mengoperasionalkan teorinya dengan istilah Fantasy Theme Analysis (FTA),
sebagaimana memahami teori ini perlu kita pahami istilah-istilah kunci dalam
ATF, yaitu :
1. Fantasy Theme ( Tema Fantasi)
Bormann mendefinisikan tema fantasi sebagai isi
pesan yang didramatisasi hingga memicu rantai fantasi (the content of the
dramatizing message that sparks the fantasy chain). Menurut Miller (2002),
fantasy theme (tema fantasi), yang diartikan sebagai ISSN 1411- 3341 JURNAL
ACADEMICA Fisip Untad VOL. 2 No. 02 Oktober 2010 433 dramatisasi pesan, dapat
berupa lelucon, analogi, permainan kata, cerita, dan sebagainya, yang memompa
semangat berinteraksi.
2. Fantasy Chain (rantai fantasi)
Secara
harfiah, fantasy chain diartikan sebagi rantai fantasi. Maksudnya, ketika pesan
yang didramatisasi berhasil mendapat tanggapan dari partisipan komunikasi ,
hingga meningkatkan intensitas dan kegairahan partisipan dalam berbagi fantasi.
Ketika fantasi yang berkembang, maka terjadilah rantai fantasi. Ketika rantai
fantasi tercipta, tempo percakapan jadi meningkat, antusiasme partisipan
muncul, dan timbul peningkatan rasa empati dan umpanbalik di antara partisipan
komunikasi.
3. Fantasy Type (Tipe Fantasi)
Bormann
mengartikan konsep ini sebagai tema-tema fantasi yang berulang dan dibicarakan
pada situasi yang lain, dengan karakter yang lain, dengan karakter yang lain,
dan latar yang lain, namun dalam alur cerita yang sama. Jika kerangka narasi
(the narrative frame) sama, tetapi tokoh, karakter, atau settingnya berbeda,
maka tema tersebut dapat dikelompokkan dalam satu jenis fantasi yang sama.
Sementara, bila terdapat beberapa tema fantasi, atau kerangka narasi yang
berbeda, itu berarti terdapat beberapa tipe fantasi.
4. Rhetorical Visions (Visi retoris)
Di sini tema-tema fantasi itu telah berkembang dan
melebar keluar dari kelompok yang mengembangkan fantasi tersebut pada awalnya.
Karena perkembangan tersebut, maka tema-tema fantasi itu menjadi fantasi
mesyarakat luas dan membentuk semacam rhetorical community (komunitas retoris).
Salah satu contoh yang dikemukakan Heisey and Trebing (1983, dalam Olufowote,
2006) dalam konteks negarabangsa, dua visi retoris yang bertentangan dibahas
pada revolusi Shah Iran yang terjadi antara tahun 1978 sampai 1979. Visi
retoris sosial yang dikembangkan oleh Revolusi Putih Shah (faksi politik
penguasa) adalah perdamaian global yang salingbergantung dengan Barat melalui
kemajuan teknologi dan pertumbuhan masayarakat. Visi retoris yang benar dari
revolusioner Islam Ayatullah (faksi politik oposisi penantang) didasarkan pada
sikap bertentangan dengan Barat, ketaatan pada Al-Quran dan membanggakan
kekuatan Islam dan membersihkannya dari kontaminasi nilai-nilai Barat
(westoxicity). Perang analogi utama itu (Cragan & Shields, 1981) mencapai
puncak dalam konfrontasi politik yang kemudian merubah kesadaran masyarakat
Iran.
PENUTUP
Penerapan teori TKS
dalam bidang praktis dan akademis akhir-akhir ini semakin banyak. Hal ini tentu
saja berkaitan dengan luasnya konteks komunikasi yang dapat dijangkau oleh
teori ini. Jika kita menyimak dari segi konteks komunikasi, TKS dianggap
sebagai teori umum yang dapat diterapkan dalam berbagai konteks komunikasi,
seperti komunikasi antarpribadi, kelompok, organisasi, public ataupun
komunikasi massa (Salwen & Stack, 1996, Wood, 2000, Bormann, 1990).
Sementara, bila dilihat dari bidang spesialisasi komunikasi, teori ini dapat
diterapkan dalam kegiatan komunikasi politik, keluarga, pendidikan hingga
komunikasi pemasaran.
Secara tradisional teori ini banyak digunakan untuk
menganalisis proses komunikasi dalam konteks kelompok, seperti aktivitas
pembuatan keputusan dalam kelompok, budaya kelompok, identitas dan identifikasi
kelompok, hingga peneguhan kohesivitas kelompok (Wilson & Hanna, 1993;
Venus, 2007). Dalam kaitannya dengan pembuatan keputusan dalam kelompok, Bormann
menyatakan bahwa pertukaran fantasi kelompok merupakan bagian dari proses
pembuatan keputusan. Dalam proses pembuatan keputusan kelompok, TKS memusatkan
perhatiannya pada tiga aspek penting, yakni; (1) Pola-pola komunikasi yang
menunjukkan kesadaran kelompok; (2) Menggambarkan bagaimana dan mengapa
kesadaran kelompok berubah dan (3) Menjelaskan mengapa orang berbagi fantasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar